Ilmuwan Itali besar ini mungkin lebih bertanggung jawab terhadap perkembangan metode ilmiah dari siapa pun juga. Galileo lahir di Pisa, tahun 1564. Selagi muda belajar di Universitas Pisa tetapi mandek karena urusan keuangan. Meski begitu tahun 1589 dia mampu dapat posisi pengajar di universitas itu. Beberapa tahun kemudian dia bergabung dengan Universitas Padua dan menetap di sana hingga tahun 1610. Dalam masa inilah dia menciptakan tumpukan penemuan-penemuan ilmiah.
Sumbangan penting pertamanya di bidang mekanika. Aristoteles mengajarkan, benda yang lebih berat jatuh lebih cepat ketimbang benda yang lebih enteng, dan bergenerasi-generasi kaum cerdik pandai menelan pendapat filosof Yunani yang besar pengaruh ini. Tetapi, Galileo memutuskan mencoba dulu benar-tidaknya, dan lewat serentetan eksperimen dia berkesimpulan bahwa Aristoteles keliru. Yang benar adalah, baik benda berat maupun enteng jatuh pada kecepatan yang sama kecuali sampai batas mereka berkurang kecepatannya akibat pergeseran udara. (Kebetulan, kebiasaan Galileo melakukan percobaan melempar benda dari menara Pisa tampaknya tanpa sadar).
Mengetahui hal ini, Galileo mengambil langkah-langkah lebih lanjut. Dengan hati-hati dia mengukur jarak jatuhnya benda pada saat yang ditentukan dan mendapat bukti bahwa jarak yang dilalui oleh benda yang jatuh adalah berbanding seimbang dengan jumlah detik kwadrat jatuhnya benda. Penemuan ini (yang berarti penyeragaman percepatan) memiliki arti penting tersendiri. Bahkan lebih penting lagi Galileo berkemampuan menghimpun hasil penemuannya dengan formula matematik. Penggunaan yang luas formula matematik dan metode matematik merupakan sifat penting dari ilmu pengetahuan modern.
Sumbangan besar Galileo lainnya ialah penemuannya mengenai hukum kelembaman. Sebelumnya, orang percaya bahwa benda bergerak dengan sendirinya cenderung menjadi makin pelan dan sepenuhnya berhenti kalau saja tidak ada tenaga yang menambah kekuatan agar terus bergerak. Tetapi percobaan-percobaan Galileo membuktikan bahwa anggapan itu keliru. Bilamana kekuatan melambat seperti misalnya pergeseran, dapat dihilangkan, benda bergerak cenderung tetap bergerak tanpa batas. Ini merupakan prinsip penting yang telah berulang kali ditegaskan oleh Newton dan digabungkan dengan sistemnya sendiri sebagai hukum gerak pertama salah satu prinsip vital dalam ilmu pengetahuan.
Penemuan Galileo yang paling masyhur adalah di bidang astronomi. Teori perbintangan di awal tahun 1600-an berada dalam situasi yang tak menentu. Terjadi selisih pendapat antara penganut teori Copernicus yang matahari-sentris dan penganut teori yang lebih lama, yang bumi-sentris. Sekitar tahun 1609 Galileo menyatakan kepercayaannya bahwa Copernicus berada di pihak yang benar, tetapi waktu itu dia tidak tahu cara membuktikannya. Di tahun 1609, Galileo dengar kabar bahwa teleskop diketemukan orang di Negeri Belanda. Meskipun Galileo hanya mendengar samar-samar saja mengenai peralatan itu, tetapi berkat kegeniusannya dia mampu menciptakan sendiri teleskop. Dengan alat baru ini dia mengalihkan perhatiannya ke langit dan hanya dalam setahun dia sudah berhasil membikin serentetan penemuan besar.
Dilihatnya bulan itu tidaklah rata melainkan benjol-benjol, penuh kawah dan gunung-gunung. Benda-benda langit, kesimpulannya, tidaklah rata serta licin melainkan tak beraturan seperti halnya wajah bumi. Ditatapnya Bima Sakti dan tampak olehnya bahwa dia itu bukanlah semacam kabut samasekali melainkan terdiri dari sejumlah besar bintang-bintang yang dengan mata telanjang memang seperti teraduk dan membaur satu sama lain.
Kemudian diincarnya planit-planit dan tampaklah olehnya Saturnus bagaikan dilingkari gelang. Teleskopnya melirik Yupiter dan tahulah dia ada empat buah bulan berputar-putar mengelilingi planit itu. Di sini terang-benderanglah baginya bahwa benda-benda angkasa dapat berputar mengitari sebuah planit selain bumi. Keasyikannya menjadi-jadi: ditatapnya sang surya dan tampak olehnya ada bintik-bintik dalam wajahnya. Memang ada orang lain sebelumnya yang juga melihat bintik-bintik ini, tetapi Galileo menerbitkan hasil penemuannya dengan cara yang lebih efektif dan menempatkan masalah bintik-bintik matahari itu menjadi perhatian dunia ilmu pengetahuan. Selanjutnya, penelitiannya beralih ke planit Venus yang memiliki jangka serupa benar dengan jangka bulan. Ini merupakan bagian dari bukti penting yang mengukuhkan teori Copernicus bahwa bumi dan semua planit lainnya berputar mengelilingi matahari.
Ilustrasi dari hukum daya pengungkit Galileo dipetik dari buku Galileo ‘Perbincangan Matematik dan Peragaan’
Penemuan teleskop dan serentetan penemuan ini melempar Galileo ke atas tangga kemasyhuran. Sementara itu, dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan dia berhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan. Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya di tahun 1616: dia diperintahkan menahan diri dari menyebarkan hipotesa Copernicus. Galileo merasa tergencet dengan pembatasan ini selama bertahun-tahun. Baru sesudah Paus meninggal tahun 1623, dia digantikan oleh orang yang mengagumi Galileo. Tahun berikutnya, Paus baru ini –Urban VIII– memberi pertanda walau samar-samar bahwa larangan buat Galileo tidak lagi dipaksakan.
Enam tahun berikutnya Galileo menghabiskan waktu menyusun karya ilmiahnya yang penting Dialog Tentang Dua Sistem Penting Dunia. Buku ini merupakan peragaan hebat hal-hal yang menyangkut dukungan terhadap teori Copernicus dan buku ini diterbitkan tahun 1632 dengan ijin sensor khusus dari gereja. Meskipun begitu, penguasa-penguasa gereja menanggapi dengan sikap berang tatkala buku terbit dan Galileo langsung diseret ke muka Pengadilan Agama di Roma dengan tuduhan melanggar larangan tahun 1616.
Tetapi jelas, banyak pembesar-pembesar gereja tidak senang dengan keputusan menghukum seorang sarjana kenamaan. Bahkan dibawah hukum gereja saat itu, kasus Galileo dipertanyakan dan dia cuma dijatuhi hukuman enteng. Galileo tidak dijebloskan ke dalam bui tetapi sekedar kena tahanan rumah di rumahnya sendiri yang cukup enak di sebuah villa di Arcetri. Teorinya dia tidak boleh terima tamu, tetapi nyatanya aturan itu tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hukuman lain terhadapnya hanyalah suatu permintaarn agar dia secara terbuka mencabut kembali pendapatnya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Ilmuwan berumur 69 tahun ini melaksanakannya di depan pengadilan terbuka. (Ada ceritera masyhur yang tidak tentu benarnya bahwa sehabis Galileo menarik lagi pendapatnya dia menunduk ke bumi dan berbisik pelan, “Tengok, dia masih terus bergerak!”). Di kota Arcetri dia meneruskan kerja tulisnya di bidang mekanika. Galileo meninggal tahun 1642.
Sumbangan besar Galileo terhadap kemajuan ilmu pengetahuan sudah lama dikenal. Arti penting peranannya terletak pada penemuan-penemuan ilmiah seperti hukum kelembaman, penemuan teleskopnya, pengamatan bidang astronominya dan kegeniusannya membuktikan hipotesa Copernicus. Dan yang lebih penting adalah peranannya dalam hal pengembangan metodologi ilmu pengetahuan. Umumnya para filosof alam mendasarkan pendapatnya pada pikiran-pikiran Aristoteles serta membuat penyelidikan secara kualitatif dan fenomena yang terkategori. Sebaliknya, Galileo menetapkan fenomena dan melakukan pengamatan atas dasar kuantitatif. Penekanan yang cermat terhadap perhitungan secara kuantitatif sejak itu menjadi dasar penyelidikan ilmu pengetahuan di masa-masa berikutnya.
Galileo mungkin lebih punya tanggung jawab daripada orang mana pun untuk penyelidikan ilmiah dengan sikap empiris. Dialah, dan bukannya yang lain, yang pertama kali menekankan arti penting peragaan percobaan-percobaan, dia menolak pendapat bahwa masalah-masalah ilmiah dapat diputuskan bersama dengan kekuasaan, apakah kekuasaan itu namanya Gereja atau kaidah dalil Aristoteles. Dia juga menolak keras bersandar pada skema-skema yang menggunakan alasan ruwet dan bukannya bersandar pada dasar percobaan yang mantap. Cerdik cendikiawan abad tengah memperbincangkan bertele-tele apa yang harus terjadi dan mengapa sesuatu hal terjadi, tetapi Galileo bersikeras pada arti penting melakukan percobaan untuk memastikan apa sesungguhnya yang terjadi. Pandangan ilmiahnya jelas gamblang tidak berbau mistik, dan dalam hubungan ini dia bahkan lebih modern ketimbang para penerusnya, seperti misalnya Newton.
Galileo, dapat dianggap orang yang taat beragama. Lepas dari hukuman yang dijatuhkan terhadap dirinya dan pengakuannya, dia tidak menolak baik agama maupun gereja. Yang ditolaknya hanyalah percobaan pembesar-pembesar gereja untuk menekan usaha penyelidikan ilmu pengetahuannya. Generasi berikutnya amat beralasan mengagumi Gahleo sebagai lambang pemberontak terhadap dogma dan terhadap kekuasaan otoriter yang mencoba membelenggu kemerdekaan berfikir. Arti pentingnya yang lebih menonjol lagi adalah peranan yang dimainkannya dalam hal meletakkan dasar-dasar metode ilmu pengetahuan modern.
Rabu, 02 Maret 2011
Biografi Sir Isaac Newton
Ilmuwan paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia.
Sir Isaac Newton adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi dan juga ahli kimia yang berasal dari Inggris. Ia juga ilmuwan paling besar dan paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia, lahir di Woolsthrope, Inggris, tepat pada hari Natal tahun 1642, bertepatan tahun dengan wafatnya Galileo. Seperti halnya Nabi Muhammad, dia lahir sesudah ayahnya meninggal Beliau merupakan pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapak ilmu fisika
modern.
Sir Isaac Newton adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi dan juga ahli kimia yang berasal dari Inggris. Ia juga ilmuwan paling besar dan paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia, lahir di Woolsthrope, Inggris, tepat pada hari Natal tahun 1642, bertepatan tahun dengan wafatnya Galileo. Seperti halnya Nabi Muhammad, dia lahir sesudah ayahnya meninggal Beliau merupakan pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapak ilmu fisika
modern.
Sabtu, 19 Februari 2011
benjamin franklin
Benjamin Franklin (lahir di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, 17 Januari 1706 – meninggal di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, 17 April 1790 pada umur 84 tahun) adalah seorang tokoh Amerika Serikat yang terkenal dan telah meninggalkan banyak karya di dalam hidupnya. Franklin adalah orang dengan banyak jenis pekerjaan dan keahlian. Ia adalah seorang wartawan, penerbit, pengarang, filantrofis, abolisionis , pelayan masyarakat (pejabat), ilmuwan, diplomat, dan penemu sekaligus! Franklin juga adalah salah seorang pemimpin Revolusi Amerika, dan salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Kata-katanya banyak yang terkenal dan dikutip orang. Misalnya "waktu adalah uang" kemungkinan besar berasal dari dirinya. Karena ia juga seorang penerbit dan pemilik percetakan, banyak kata-katanya yang masih bisa dibaca orang hingga sekarang karena ia juga banyak dan rajin menulis. Ia juga terkenal dengan percobaanya mengenai listrik (penangkal petir). Dia adalah Kepala Kantor Pos pertama di Amerika, pembuat "perpustakaan umum" pertama, dan orang pertama yang mengorganisasikan barisan pemadam kebakaran kota.
Benjamin Franklin ialah anggota Freemasonry.
Benjamin Franklin ialah anggota Freemasonry.
isaac newton
Sir Isaac Newton FRS (lahir di Woolsthorpe-by-Colsterworth, Lincolnshire, 4 Januari 1643 – meninggal 31 Maret 1727 pada umur 84 tahun; KJ: 25 Desember 1642 – 20 Maret 1727) adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog yang berasal dari Inggris. Ia merupakan pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapak ilmu fisika klasik.[1] Karya bukunya PhilosophiƦ Naturalis Principia Mathematica yang diterbitkan pada tahun 1687 dianggap sebagai buku paling berpengaruh sepanjang sejarah sains. Buku ini meletakkan dasar-dasar mekanika klasik. Dalam karyanya ini, Newton menjabarkan hukum gravitasi dan tiga hukum gerak yang mendominasi pandangan sains mengenai alam semesta selama tiga abad. Newton berhasil menunjukkan bahwa gerak benda di Bumi dan benda-benda luar angkasa lainnya diatur oleh sekumpulan hukum-hukum alam yang sama. Ia membuktikannya dengan menunjukkan konsistensi antara hukum gerak planet Kepler dengan teori gravitasinya. Karyanya ini akhirnya menyirnakan keraguan para ilmuwan akan heliosentrisme dan memajukan revolusi ilmiah.
Dalam bidang mekanika, Newton mencetuskan adanya prinsip kekekalan momentum dan momentum sudut. Dalam bidang optika, ia berhasil membangun teleskop refleksi yang pertama[2] dan mengembangkan teori warna berdasarkan pengamatan bahwa sebuah kaca prisma akan membagi cahaya putih menjadi warna-warna lainnya. Ia juga merumuskan hukum pendinginan dan mempelajari kecepatan suara.
Dalam bidang matematika pula, bersama dengan karya Gottfried Leibniz yang dilakukan secara terpisah, Newton mengembangkan kalkulus diferensial dan kalkulus integral. Ia juga berhasil menjabarkan teori binomial, mengembangkan "metode Newton" untuk melakukan pendekatan terhadap nilai nol suatu fungsi, dan berkontribusi terhadap kajian deret pangkat.
Sampai sekarang pun Newton masih sangat berpengaruh di kalangan ilmuwan. Sebuah survei tahun 2005 yang menanyai para ilmuwan dan masyarakat umum di Royal Society mengenai siapakah yang memberikan kontribusi lebih besar dalam sains, apakah Newton atau Albert Einstein, menunjukkan bahwa Newton dianggap memberikan kontribusi yang lebih besar
Dalam bidang mekanika, Newton mencetuskan adanya prinsip kekekalan momentum dan momentum sudut. Dalam bidang optika, ia berhasil membangun teleskop refleksi yang pertama[2] dan mengembangkan teori warna berdasarkan pengamatan bahwa sebuah kaca prisma akan membagi cahaya putih menjadi warna-warna lainnya. Ia juga merumuskan hukum pendinginan dan mempelajari kecepatan suara.
Dalam bidang matematika pula, bersama dengan karya Gottfried Leibniz yang dilakukan secara terpisah, Newton mengembangkan kalkulus diferensial dan kalkulus integral. Ia juga berhasil menjabarkan teori binomial, mengembangkan "metode Newton" untuk melakukan pendekatan terhadap nilai nol suatu fungsi, dan berkontribusi terhadap kajian deret pangkat.
Sampai sekarang pun Newton masih sangat berpengaruh di kalangan ilmuwan. Sebuah survei tahun 2005 yang menanyai para ilmuwan dan masyarakat umum di Royal Society mengenai siapakah yang memberikan kontribusi lebih besar dalam sains, apakah Newton atau Albert Einstein, menunjukkan bahwa Newton dianggap memberikan kontribusi yang lebih besar
Double eF Team “Story at Loji House
Menceritakan tentang Fatin dan Fauzan sebagai pembentuk tim ini diminta oleh Abdul Hamid, untuk mengusir hantu di rumah antik milik sahabatnya yang bernama Herman Satrio Cole de Val Mont pada hari libur. Double eF Team terpaksa menerima permintaan Kakek Hamid karena kalau mereka tidak mau menerima, Kakek Herman mengancam akan memutus persahabatan sekaligus membeberkan rahasia Kakek Hamid yang. . . . bahkan Fatin sekeluarga pun, belum pernah tahu. Untuk mengusir hantu di rumah antik itu, hiiiiiy. . . . bukannya Double eF Team nggak mau, tetapi letak rumah itu ada di pedesaan dan sudah lama tak dihuni.
Masalahnya, benarkah rumah antik yang biasa disebut rumah loji itu berhantu ? So, okelah Double eF Team mau pergi kesana karena sebelumnya tidak ada rencana mau kemana. Lalu, siapakah Kakek Herman itu ? Beberapa hari sebelum pergi ke Purworejo tempat rumah loji itu, Fatin mencari informasi selengkap mungkin tentang Kakek Herman ! Dan didapat kalau Kakek Herman itu tidak bisa hidup menetap, dan beberapa kali ganti profesi dari menulis pengalaman perang, peneliti sejarah, anggota ketoprak keliling, pelukis, dan terakhir yang kakek Hamid ketahui adalah pelaut.
Hari ini Double eF Team memulai perjalanannya ke Purworejo. Sesampainya disana, Fatin dan Fauzan bertemu dengan penjaga rumah loji itu yang bernama Mbah Atmo dan yang menjadi pembantu di rumah itu adalah
Bibi Iyah. Malam telah datang, lalu fatin dan Fauzan pergi untuk tidur di kamar. Sebelum memejamkan matanya mereka berdua mendengar suara aneh dan langsung menjenguk keluar, mereka melihat seorang perempuan berbaju putih, rambut hitam yang panjang dan hanya muncul beberapa saat setelah mereka melihat perempuan itu di rung tengah. Malam berikutnya juga begitu, sehingga Fatin memberanikan diri untuk mendengarkan suara itu lebih seksama. Dan memperhatikan seorang perempuan yang selalu muncul di ruang tengah.
Esok harinya, Fatin menceritakan semua dugaannya tentang Mbah Atmo sebagai pelakunya kepada Fauzan. Dan untuk membuktikannya malam ini juga Fauzan harus membuktikannya dengan memasuki kamar Mbah Atmo. Dan akhirnya terbukti bahwa Mbah Atmo adalah pelakunya.
Alasan pertama, suara-suara aneh yang ada di malam hari itu hanyalah sebuah rekaman karena pada saat Fatin mendengarkannya dengan seksama suara itu selalu berulang-ulang. Alasan kedua, seorang perempuan yang sering muncul di ruang tengah hanyalah proyektor yang ditampilkan melalui lubang di pintu kamar Mbah Atmo. Dan ada satu kenyataan yang diketahui dan tidak bisa terelakkan oleh Mbah Atmo yaitu, Mbah Atmo sebenarnya adalah Kakek Herman sendiri.
Berakhirlah liburan di Purworejo dan terbongkarlah rahasia Kakek Hamid. Rahasia Kakek
Hamid adalah ia sebenarnya seorang yang penakut
Masalahnya, benarkah rumah antik yang biasa disebut rumah loji itu berhantu ? So, okelah Double eF Team mau pergi kesana karena sebelumnya tidak ada rencana mau kemana. Lalu, siapakah Kakek Herman itu ? Beberapa hari sebelum pergi ke Purworejo tempat rumah loji itu, Fatin mencari informasi selengkap mungkin tentang Kakek Herman ! Dan didapat kalau Kakek Herman itu tidak bisa hidup menetap, dan beberapa kali ganti profesi dari menulis pengalaman perang, peneliti sejarah, anggota ketoprak keliling, pelukis, dan terakhir yang kakek Hamid ketahui adalah pelaut.
Hari ini Double eF Team memulai perjalanannya ke Purworejo. Sesampainya disana, Fatin dan Fauzan bertemu dengan penjaga rumah loji itu yang bernama Mbah Atmo dan yang menjadi pembantu di rumah itu adalah
Bibi Iyah. Malam telah datang, lalu fatin dan Fauzan pergi untuk tidur di kamar. Sebelum memejamkan matanya mereka berdua mendengar suara aneh dan langsung menjenguk keluar, mereka melihat seorang perempuan berbaju putih, rambut hitam yang panjang dan hanya muncul beberapa saat setelah mereka melihat perempuan itu di rung tengah. Malam berikutnya juga begitu, sehingga Fatin memberanikan diri untuk mendengarkan suara itu lebih seksama. Dan memperhatikan seorang perempuan yang selalu muncul di ruang tengah.
Esok harinya, Fatin menceritakan semua dugaannya tentang Mbah Atmo sebagai pelakunya kepada Fauzan. Dan untuk membuktikannya malam ini juga Fauzan harus membuktikannya dengan memasuki kamar Mbah Atmo. Dan akhirnya terbukti bahwa Mbah Atmo adalah pelakunya.
Alasan pertama, suara-suara aneh yang ada di malam hari itu hanyalah sebuah rekaman karena pada saat Fatin mendengarkannya dengan seksama suara itu selalu berulang-ulang. Alasan kedua, seorang perempuan yang sering muncul di ruang tengah hanyalah proyektor yang ditampilkan melalui lubang di pintu kamar Mbah Atmo. Dan ada satu kenyataan yang diketahui dan tidak bisa terelakkan oleh Mbah Atmo yaitu, Mbah Atmo sebenarnya adalah Kakek Herman sendiri.
Berakhirlah liburan di Purworejo dan terbongkarlah rahasia Kakek Hamid. Rahasia Kakek
Hamid adalah ia sebenarnya seorang yang penakut
Siti Nurbaya Oleh Marah Rusli
Ibunya Siti Nurbaya meninggal saat ia masih kecil, maka bisa dikatakan itulah awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih.
Awalnya usaha Baginda Sulaiman mangalami kemajuan pesat. Tetapi Datuk Maringgih tidak menyukai keadaan itu, maka untuk melampiaskan keserakahannya, Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Akhirnya semua usaha Baginda Sulaiman hancur. Ia jatuh miskin dan tak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutangnya. Hutang tersebut dapat dianggap lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada Datuk Maringgih.
Menghadapi kenyataan seperti itu, Baginda Sulaiman yang sudah tak sanggup lagi membayar hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain menyerahkan Siti Nurbaya kepada Datuk Maringgih. Samsulbahri, kekasih Siti Nurbaya yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya.
Suatu hari, ketika Samsulbahri dalam liburan ke Padang, ia bertemu dengan Siti Nurbaya yang telah menjadi istri Datuk Maringgih. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgih sehingga terjadi keributan. Karena kaget dan takut Siti Nurbaya pun berteriak. Teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya di rumah, yang tengah terbaring sakit karena penderitaannya begitu berat. Baginda Sulaiman berusaha bangkit, tetapi ia terjatuh dan menghembuskan nafas terakhir. Karena kejadian itu, Datuk Maringgih pun mengusir Siti Nurbaya.
Siti Nurbaya yang mendengar bahwa kekasihnya diusir orang tuanya, ia ingin menyusul Samsulbahri ke Jakarta. Tetapi hal itu diketahui oleh kaki tangan Datuk Maringih. Karena itu, dengan siasat dan fitnahnya, Datuk Maringgih dengan bantuan kaki tangannya dapat memaksa Siti Nurbaya kembali dengan perantara polisi. Tak lama kemudian Siti Nurbaya meninggal dunia karena memakan lemang beracun yang sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu terdengar oleh Samsulbahri sehingga ia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuh diri, tetapi untung saja ia tidak meninggal. Sejak saat itu Samsulbahri tidak meneruskan sekolahnya dan memasuki dinas militer.
Sepuluh tahun kemudian, di kota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota Padang.
Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam suatu keributan, tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih jatuh , namun sebelum tewas ia sempat melukai kepala Samsulbahri dengan parangnya. Samsulbahri segera dilarikan ke rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta dipertemukan dengan ayahnya, dan meminta untuk di kuburkan di sebelah kuburan Siti Nurbaya.
Awalnya usaha Baginda Sulaiman mangalami kemajuan pesat. Tetapi Datuk Maringgih tidak menyukai keadaan itu, maka untuk melampiaskan keserakahannya, Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Akhirnya semua usaha Baginda Sulaiman hancur. Ia jatuh miskin dan tak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutangnya. Hutang tersebut dapat dianggap lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada Datuk Maringgih.
Menghadapi kenyataan seperti itu, Baginda Sulaiman yang sudah tak sanggup lagi membayar hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain menyerahkan Siti Nurbaya kepada Datuk Maringgih. Samsulbahri, kekasih Siti Nurbaya yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya.
Suatu hari, ketika Samsulbahri dalam liburan ke Padang, ia bertemu dengan Siti Nurbaya yang telah menjadi istri Datuk Maringgih. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgih sehingga terjadi keributan. Karena kaget dan takut Siti Nurbaya pun berteriak. Teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya di rumah, yang tengah terbaring sakit karena penderitaannya begitu berat. Baginda Sulaiman berusaha bangkit, tetapi ia terjatuh dan menghembuskan nafas terakhir. Karena kejadian itu, Datuk Maringgih pun mengusir Siti Nurbaya.
Siti Nurbaya yang mendengar bahwa kekasihnya diusir orang tuanya, ia ingin menyusul Samsulbahri ke Jakarta. Tetapi hal itu diketahui oleh kaki tangan Datuk Maringih. Karena itu, dengan siasat dan fitnahnya, Datuk Maringgih dengan bantuan kaki tangannya dapat memaksa Siti Nurbaya kembali dengan perantara polisi. Tak lama kemudian Siti Nurbaya meninggal dunia karena memakan lemang beracun yang sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu terdengar oleh Samsulbahri sehingga ia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuh diri, tetapi untung saja ia tidak meninggal. Sejak saat itu Samsulbahri tidak meneruskan sekolahnya dan memasuki dinas militer.
Sepuluh tahun kemudian, di kota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota Padang.
Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam suatu keributan, tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih jatuh , namun sebelum tewas ia sempat melukai kepala Samsulbahri dengan parangnya. Samsulbahri segera dilarikan ke rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta dipertemukan dengan ayahnya, dan meminta untuk di kuburkan di sebelah kuburan Siti Nurbaya.
The Firebird
Prince Ivan and his sister Katooshka lived with their father, the Tsar, in a castle in Russia. Of the two children, the Tsar preferred the daughter as she seemed to be more hard working than the son, but really it was the other way around, only Katooshka was very sneaky.
The children had to care for the Tsar’s greatest treasure, a tree with apples made out of gold. But one day it was discovered that a golden apple was missing from the tree. The next night another one was stolen. The next night the Tsar told Ivan and Katooshka to stay awake in the garden and find out who was stealing the golden apples.
Katooshka didn’t even try and stay awake, she just left it up to Ivan to do everything again. After a while Ivan saw the most beautiful thing he had ever seen. It was the Firebird. He ran after the Firebird, but got there just too late, although he did catch the Firebird’s tail, and one of the beautiful feathers came out in his hand.
In the morning, Katooshka shouted at Ivan for letting the robber get away. When the Tsar came to speak to them, she also said that Ivan has been very lazy and hadn’t done anything, so it was his fault that the Firebird had got away! The Tsar was very angry but he was amazed at the beauty of the feather. He sent his son away to catch the Firebird. He was not to return until he had caught the splendid bird. A long journey began.
First Ivan reached a creepy forest where he had to decide whether to go forward and be eaten by a wolf or go back and be a failure. Ivan was determined to find the Firebird and prove to his father that he wasn’t useless. So he entered the forest and there he encountered a toothless wolf. But how could a wolf be dangerous if he did not have any teeth? A pedlar had given Ivan a wolf’s tooth in his father’s city. The tooth was useful for polishing the golden apples to make them extra clean and shiny. Ivan took pity in the wolf and gave him the tooth. The wolf was very grateful and decided to accompany Ivan to the castle of Koschei the Deathless. (This was where they knew the Firebird was imprisoned)
But the evil wizard, Koschei the Deathless had another prisoner: Princess Vasilisa, princess of incomparable beauty. The wolf knew some facts about the princess and he issued Ivan with this warning.
“Do not look at her! She has been bewitched by Koschei the Deathless. He has turned her heart into wood, and hidden it so she could have no feelings. You will fall hopelessly in love with her, and she will never be able to return the feelings.”
The wolf was not the bravest of animals; he left Ivan to go into the castle on his own. Without the wolf there to remind him, Ivan forgot all the warnings and fell deeply in love with Vasilisa.
Now the prince had to master two difficult tasks: he had to rescue the Firebird and his princess. Before he had the chance to take the princess away, Koschei the Deathless appeared. He said that Baba Yaga, a terrible witch, had stolen the Firebird. Koschei the Deathless told Ivan that if he got the Firebird back from Baba Yaga, he would give Ivan the opportunity to choose between the princess and the Firebird. The wizard told Ivan how to find Baba Yaga, and how the Firebird was tied with a golden cord to Baba Yaga’s crow, Vanka.
Ivan set off to find the Firebird, riding on the wolf’s back. When they found the witch’s house, they saw that both Baba Yaga and the crow were fast asleep. Once again the wolf issued a warning to prince Ivan.
“Before you go, a word of warning. The Firebird will be fastened by a golden cord. Bring the Firebird, but leave the cord.”
Of course Ivan forgot this warning, he went to get the Firebird, he was about to leave with the Firebird with the golden cord still tied to the it, when Vanka the crow wakes up and squawks and squawks. Baba Yaga also wakes up and now Ivan was captured.
The wolf heard all this and went and fetched princess Vasilisa. Vasilisa pretended to be a pedlar woman and tricked Baba Yaga in to letting her into the house. When Baba Yaga and the crow were once again asleep, Ivan, the Firebird and princess Vasilisa ran away.
They all went back to Koschei’s castle. Ivan was then stuck. He had to choose between the Firebird and the princess. He would not be allowed back in his father’s house if he didn’t bring back the bird, but how could he leave his beloved princess behind. Koschei (as he was truly evil) then tried to turn Ivan’s heart into wood. Vasilisa saw this and suddenly burst into tears.
“Stop!….. Stop that I tell you! Stop your crying!” shouted Koschei the Deathless.
In an instance, Vasilisa realised where he had hidden her heart …… in her tears. Koschei the Deathless died and Vasilisa’s heart was no longer wooden. Ivan then told the Firebird that he was free, but the Firebird chose to come to the Tsar’s castle with him.
When they arrived, Ivan’s horrible sister – princess Katooshka tried to prevent them showing the Firebird to the Tsar. She gave Ivan and Vasilisa two apples from the golden tree (she had poisoned them to try and catch the thief). Ivan and Vasilisa both died!
Now only the Firebird, who had promised to return a favour to Ivan, knew a solution. She flew to the fountain of life and therefore could return and revive the children with the magic water.
The Tsar now noticed how he had mistreated Ivan and that Katooshka should be punished forever. He banished her to lead a pedlar’s life. However, Ivan and Vasilisa also took pleasure in the thought of being free and jolly pedlars. Finally they all decided to become pedlars and lived happily ever after!
The children had to care for the Tsar’s greatest treasure, a tree with apples made out of gold. But one day it was discovered that a golden apple was missing from the tree. The next night another one was stolen. The next night the Tsar told Ivan and Katooshka to stay awake in the garden and find out who was stealing the golden apples.
Katooshka didn’t even try and stay awake, she just left it up to Ivan to do everything again. After a while Ivan saw the most beautiful thing he had ever seen. It was the Firebird. He ran after the Firebird, but got there just too late, although he did catch the Firebird’s tail, and one of the beautiful feathers came out in his hand.
In the morning, Katooshka shouted at Ivan for letting the robber get away. When the Tsar came to speak to them, she also said that Ivan has been very lazy and hadn’t done anything, so it was his fault that the Firebird had got away! The Tsar was very angry but he was amazed at the beauty of the feather. He sent his son away to catch the Firebird. He was not to return until he had caught the splendid bird. A long journey began.
First Ivan reached a creepy forest where he had to decide whether to go forward and be eaten by a wolf or go back and be a failure. Ivan was determined to find the Firebird and prove to his father that he wasn’t useless. So he entered the forest and there he encountered a toothless wolf. But how could a wolf be dangerous if he did not have any teeth? A pedlar had given Ivan a wolf’s tooth in his father’s city. The tooth was useful for polishing the golden apples to make them extra clean and shiny. Ivan took pity in the wolf and gave him the tooth. The wolf was very grateful and decided to accompany Ivan to the castle of Koschei the Deathless. (This was where they knew the Firebird was imprisoned)
But the evil wizard, Koschei the Deathless had another prisoner: Princess Vasilisa, princess of incomparable beauty. The wolf knew some facts about the princess and he issued Ivan with this warning.
“Do not look at her! She has been bewitched by Koschei the Deathless. He has turned her heart into wood, and hidden it so she could have no feelings. You will fall hopelessly in love with her, and she will never be able to return the feelings.”
The wolf was not the bravest of animals; he left Ivan to go into the castle on his own. Without the wolf there to remind him, Ivan forgot all the warnings and fell deeply in love with Vasilisa.
Now the prince had to master two difficult tasks: he had to rescue the Firebird and his princess. Before he had the chance to take the princess away, Koschei the Deathless appeared. He said that Baba Yaga, a terrible witch, had stolen the Firebird. Koschei the Deathless told Ivan that if he got the Firebird back from Baba Yaga, he would give Ivan the opportunity to choose between the princess and the Firebird. The wizard told Ivan how to find Baba Yaga, and how the Firebird was tied with a golden cord to Baba Yaga’s crow, Vanka.
Ivan set off to find the Firebird, riding on the wolf’s back. When they found the witch’s house, they saw that both Baba Yaga and the crow were fast asleep. Once again the wolf issued a warning to prince Ivan.
“Before you go, a word of warning. The Firebird will be fastened by a golden cord. Bring the Firebird, but leave the cord.”
Of course Ivan forgot this warning, he went to get the Firebird, he was about to leave with the Firebird with the golden cord still tied to the it, when Vanka the crow wakes up and squawks and squawks. Baba Yaga also wakes up and now Ivan was captured.
The wolf heard all this and went and fetched princess Vasilisa. Vasilisa pretended to be a pedlar woman and tricked Baba Yaga in to letting her into the house. When Baba Yaga and the crow were once again asleep, Ivan, the Firebird and princess Vasilisa ran away.
They all went back to Koschei’s castle. Ivan was then stuck. He had to choose between the Firebird and the princess. He would not be allowed back in his father’s house if he didn’t bring back the bird, but how could he leave his beloved princess behind. Koschei (as he was truly evil) then tried to turn Ivan’s heart into wood. Vasilisa saw this and suddenly burst into tears.
“Stop!….. Stop that I tell you! Stop your crying!” shouted Koschei the Deathless.
In an instance, Vasilisa realised where he had hidden her heart …… in her tears. Koschei the Deathless died and Vasilisa’s heart was no longer wooden. Ivan then told the Firebird that he was free, but the Firebird chose to come to the Tsar’s castle with him.
When they arrived, Ivan’s horrible sister – princess Katooshka tried to prevent them showing the Firebird to the Tsar. She gave Ivan and Vasilisa two apples from the golden tree (she had poisoned them to try and catch the thief). Ivan and Vasilisa both died!
Now only the Firebird, who had promised to return a favour to Ivan, knew a solution. She flew to the fountain of life and therefore could return and revive the children with the magic water.
The Tsar now noticed how he had mistreated Ivan and that Katooshka should be punished forever. He banished her to lead a pedlar’s life. However, Ivan and Vasilisa also took pleasure in the thought of being free and jolly pedlars. Finally they all decided to become pedlars and lived happily ever after!
Langganan:
Postingan (Atom)